ktna Jombang - Kemitraan Bulog yang telah bergulir dalam beberapa bulan terakhir ini telah membawa iklim baru di dalam Gapoktan. Terutama bagi Gapoktan yang sudah melakukan teken kontrak pengadaan Gabah Beras (Gapoktan Mitra Bulog) yang di fasilitasi oleh KTNA Kabupaten Jombang.
Melalui kegiatan ini, pengurus Gapoktan di tuntut untuk kerja keras memenuhi target kontrak yang sudah di sepakati. Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah bagi yang belum pernah melakukannya. Bukan sekedar mengumpulkan gabah, tapi gabah dengan standard tertentu dan pastinya harus di hitung pula untung ruginya. Petani sebagai pelaku utama harus untung, demikian pula Gapoktan sebagai pelaku bisnis.
Melalui kegiatan ini, pengurus Gapoktan di tuntut untuk kerja keras memenuhi target kontrak yang sudah di sepakati. Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah bagi yang belum pernah melakukannya. Bukan sekedar mengumpulkan gabah, tapi gabah dengan standard tertentu dan pastinya harus di hitung pula untung ruginya. Petani sebagai pelaku utama harus untung, demikian pula Gapoktan sebagai pelaku bisnis.
Sebagaimana yang telah di lakukan oleh Gapoktan Sumbergondang, Kecamatan kabuh, Kabupaten Jombang ini, Sempat ragu dan di ragukan karena kabuh bukan daerah yang populer dengan hasil tanaman pangannya, Terlebih lagi Gapoktan ini juga tidak memiliki lantai jemur, sebuah sarana yang menjadi salah satu syarat utama untuk menjalankan kegiatan ini, namun berkat kerja keras Gapoktan yang di ketuai oleh Dasianto ini mampu memenuhi dan menutup kontrak sebesar 51 ton ke Bulog, bahkan mampu mendahului gapokrtan-gapoktan daerah lain yang menjadi sentra padi seperti daerah megaluh dan Bareng.
Amin Mashudi, koordinator PPL Kabuh mengatakan, semula Kabuh mengajukan dua Gapoktan yaitu Kauman dan Sumbergondang untuk mengikuti kontrak dengan Bulog, namun dengan berbagai pertimbangan akhirnya Sumbergondang yang melakukan kontrak dengan Bulog "Saya lihat di sini (Sumbergondang) memang kompak, karena ketua Gapoktanya memang betul-betul bisa di terima oleh semua anggotanya" tutur Amin Mashudi.
Gapoktan Mitra Bulog binaan PPL THL Andi Cahyono ini menggerakkan 3 kelompok tani dalam wilayahnya yaitu Poktan Bedander, Poktan Gondang dan Poktan Sawahan. Tidak kurang dari 70 petani di organisir untuk memenuhi target 51 ton gabah kering giling. Tiga poktan inilah yang kemudian membeli gabah kering panen dari masing-masing anggotanya. Dengan kerja ekstra selama ± satu bulan, Gapoktan ini akhirnya menutup kontrak pertamanya pada tanggal 27 Maret 2012.
Dasianto mengaku bahwa selama ini belum pernah melakukan kegiatan agribisnis gabah, apalagi bermitra dengan Bulog seperti saat ini. Selain mendapat pengalaman berharga sebagai pelaku bisnis, ada hal lain yang sangat membanggakannya, pertama ; Dasianto berhasil mewujudkan kerukunan dan komitmen anggota Poktan dan Gapoktan, Kedua ; Ada kebanggaan karena rasa saling percaya di antara anggota dan pengurus Poktan maupun Gapoktan masih sangat tinggi, "Bagi saya dan mungkin bagi kelompok, hal inilah yang paling penting, karena tidak bisa dinilai dengan uang" kata Dasianto saat di temui di rumahnya.
Tentu bukan sekedar kebanggan yang diperoleh, kegiatan agribisnis harus berujung sebuah nilai tambah secara ekonomi. Pada bulan juni nanti Gapoktan Sumbergondang akan mendapatkan hasil dari sisa penggilingan gabah yang telah disetor ke Bulog. Sebagaimana di ketahui beras yang di setor ke Bulog nantinya adalah 63.5% dari jumlah yang disetor dan selebihnya baik berupa beras, dedak halus maupun kasar menjadi hak Gapoktan.
Supraptono, sekretaris KTNA Jombang yang ikut mendampingi Gapoktan mengatakan kalau gabah dari Sumbergondang akan memiliki rendemen yang cukup tinggi, "Perkiraan saya rendemennya diatas 68, pengalaman saya untuk gabah lokalan saja dengan di jemur biasa bisa mencapai 67,5, waktu saya lihat gabah yang di setor oleh gapoktan Sumbergondang kemarin lebih kering dan lebih bersih" tutur Supraptono.
Apa yang disampaikan oleh Supraptono di benarkan oleh Wahib, seorang pelaku agribis (Bakul) gabah yang saat itu sedang bertamu ke kantor KTNA. Berdasarkan hitungan yang di lakukan oleh HUMUS, bila rendemen mencapai 68%, setelah di potong biaya angkut, kuli dan ongkos selep maka Dasianto dan kawan-kawan akan memperoleh pendapatan sebesar Rp. 14.373.700,00 dengan keuntungan kurang lebih Rp. 6.873.700,00
Tidak berhenti sampai di situ, setelah menyelesaikan kontrak pengadaan Gabah, Gapoktan Sumbergondang juga mengikuti kontrak pengadaan beras sejumlah 33 ton dengan Bulog. Rumah Dasianto, yang dulunya hanya berfungsi sebagai rumah tinggal, kini menjadi ramai untuk prosesing beras.
Inilah salah satu contoh Gapoktan mitra Bulog yang telah menikmati hasil kemitraannya, dan masih banyak lagi Gapoktan-gapoktan lainnya yang telah ikut bermitra dengan bulog, siapkah Gapoktan atau Poktan anda menjadi Gapoktan atau Poktan yang berbudaya Agribisnis?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar