Senin, 24 Desember 2012

VIRUS FLU BURUNG ATAU AI


Ktna Jombang - Selama ini mungkin kita sudah sering mendengar berita tentang kasus Virus flu burung, baik yang dilaporkan pada unggas maupun manusia yang tersebar hampir di seluruh dunia. Dalam istilah ilmiah, penyakit flu burungatau Avian Influenza (AI). Penyakit flu burung atau Avian Influenza (AI) secara perhitungan ekonomi dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi pelaku dunia perunggasan. Disamping itu, penyakit ini juga sangat membahayakan kesehatan manusia dan bahkan dapat menyebabkan kematian pada manusia.
Awal terjadinya wabah penyakit flu burung di Indonesia dimulai pada pertengahan tahun 2003 di mana dari beberapa laporan yang ada melaporakan bahwa unggas yang terserang penyakit flu burung akan memperlihatkan tanda-tanda penyakit seperti pial dan jengger membengkak dan kebiruan (sianosis), muka bengkak dan keluar cairan dari hidung dan mulut, bercak-bercak merah (ptekhi) subkutan pada kaki dan telapak kaki, leher menekuk (tortiktikolis), diare atau mencret dan kematian yang sangat tinggi. Selama dalam kurun waktu beberapa tahun berikutnya, kebanyakan kasus penyakit flu burung yang dilaporkan pada unggas di lapangan mengalami perubahan tanda-tanda penyakit yang ditimbulkannya di mana unggas yang terkena penyakit flu burung ini akan tiba-tiba mengalami kematian tanpa memperlihatkan tanda-tanda penyakit seperti yang disebutkan di atas terlebih dahulu. Sebagaimana terlihat pada gambar dibawah ini di mana ayam yang terinfeksi Virus AI terlihat lemah, lesu dan biasanya tiba-tiba langsung mati keesokan harinya.
Untuk penyakit flu burung pada manusia di Indonesia, pertama kali dilaporkan kejadianya di Kabupaten Tangerang pada tahun 2005. Kasus flu burung pada manusia Indonesia itu sendiri sampai dengan akhir tahun 2011 sudah berkembangmenjadi sebanyak 150 orang yang meninggal dari 182 orang yang positip terinfeksi flu burung (H5N1). Biasanya penyakit flu burung ini akan mengganggu saluran pernafasan manusia yang ditandai dengan demam, sakit kepala, nyeri otot (mialgia), batuk, lesi, kebengkakan (coryza), sakit tenggorokan dan batuk.
Penyakit/Virus flu burung ini disebabkan virus influenza yang menurut klasifikasinya termasuk dalam famili Orthomyxoviridae. Virus ini adalah Virus RNA, berpolaritas negatif, mempunyai amplop (envelope) dan genomnya bersegmen. Segmen-segmen dari virus ini terdiri dari protein polymerase component 2 (PB2), polymerase component 1 (PB1), polymerase component (PA) yang mengkodekan Polymerase. Hemaglutinin (HA), Nucleocapsid (NP), Neuraminidase (NA),  Matrix Protein 1 (M1), Matrix Protein 2 (M2), Non Structural Protein 1 (NS1) dan Non Structural Protein 2 (NS2). Dalam kemampuanya menimbulkan penyakit pada unggas, virus ini dibedakan menjadi Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) dan Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI) sedangkan berdasarkan genetic dan antigenetik, virus ini dibedakan menjadi tipe A, B dan C. Virus yang menyebabkan penyakit flu burung yang terjadi selama ini termasuk virus influenza tipe A. Virus influenza A dapat menyerang berbagai jenis unggas, mamalia dan manusia. Virus influenza tipe A dibedakan menjadi beberapa subtipe berdasarkan kombinasi 2 antigen permukaan utama yaitu Hemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA). Sampai saat ini, sudah ada 16 subtipe HA dan 9 subtipe NA yang telah diidentifikasi yang memungkinkan berpeluang berkembang menjadi 144 kombinasi subtipe. Virus AI subtipe H5N1 ini dianggap sebagai agen penyakit penyebab terhadap terjadinya pandemik atau wabah influenza pada manusia akhir-akhir ini.
Keberadaan unggas air liar Anseriformas (itik, entok dan angsa) dan Charadriiformes (burung camar (laut), burung laut, burung liar) yang tersebar luas di seluruh dunia diduga sebagai inang perantara alami (reservoir) virus influenza A yang paling heterogen. Unggas air liar adalah inang perantara alami yang unik untuk virus AI dikarenakan semua subtipe H dan N virus AI dapat ditemukan dalam tubuh unggas air. Semua subtipe virus AI berkembang biak dalam jumlah besar.di dalam saluran pencernaan unggas air, dan semua unggas air yang mengandung semua subtipe virus AI ini biasanya tanpa memperlihatkan gejala sakit seperti yang ditunjukan oleh unggas lain yang terserang penyakit flu burung. Keragaman subtipe virus AI pada unggas air semakin menguatkan dugaan kita selama ini bahwa unggas air mempunyai peranan yang sangat penting dalam penularan virus AI ke manusia.
Itik adalah salah satu dari kelompok unggas air yang peka terhadap  serangan penyakit flu burung. Dari laporan penelitian yang telah dilakukan, berbagai jenis itik (Anas crecca, Anas cyanoptera, Anas discors dan Anas acuta) yang tinggal di Texas telah ditemukan beberapa subtipe hemaglutinin yaitu H2, H7, H8 dan H1. Apabila kita kembali melihat keberadaan itik yang tersebar luas di dunia dan itik yang mempunyai perilaku berpindah-pindah tempat dan bepergian dalam jarak yang sangat jauh di mana ini memberikan peluang yang sangat besar terhadap itik sebagai pembawa penyakit (carrier) flu burung dari satu daerah ke daerah yang lain. Selain itu, kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat tertentu dalam menggembalakan itik secara bebas atau liar dan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainya terutama pada saat musim panen tiba dimungkinkan sebagai faktor yang berperan terhadap penyebaran virus flu burung (HPAI, H5N1) ke lingkungan sekitar. Para peternak atau petani itik yang ada di Indonesia juga masih banyak yang melakukan kebiasaan menggembalakan itik secara berpindah dari satu sawah ke sawah yang lainnya pada musim panen tiba. Itik ini biasanya secara berkelompok dibiarkan bebas atau berkeliaran untuk mencari makan sendiri di sawah yang habis panen. Apabila makanan bagi itik yang tersedia di sawah yang sebelumnya habis maka gerombolan itik tersebut akan berpindah ke sawah kain yang masih menyediakan makanan bagi itik tersebut. Perpindahan itik ini bisa berlangsung dalam beberapa hari dan dalam jarak yang cukup jauh. Kondisi ini sangat mendukung terjadinya penyebaran virus oleh itik yang terserang penyaklit flu burung dari satu tempat ke tampat lainnya melalui pengeluaran (shedding) virus dari tubuh itik.
Di dalam tubuh itik sendiri virus flu burung yang bersifat LPAI dapat berubah menjadi HPAI. Virus flu burung yang tidak berbahaya atau patogen dalam itik dapat menjadi virus  berbahaya melalui proses evolusi atau adaptasi dalam tubuh itik. Biasanya virus flu burung yang sudah mengalami perubahan dalam tubuh itik akan bersifat sangat patogen atau berbahaya pada ayam peliharaan atau peternakan ayam. Melihat kondisi seperti ini, terdapat dugaan bahwa itik mempunyai kemampuan untuk menularkan virus flu burung pada unggas lain tanapa menderita penyakit yang parah. Tetapi akhir-akhit ini telah ada laporan yang menyatakan bahwa virus flu burung H5N1 dapat menyebabkan penyakit yang parah bahkan sampai menimbulkan kematian dalam jumlah tinggi pada itik. Itik yang mrngidap penyakit flu burung biasanya bisa disertai dengan tanda-tanda penyakit atau tanpa menderita penyakit. Akan tetapi meskipun tanpa menderita penyakit itik yang terserang penyakit flu burung masih dapat mengeluarkan virus flu burung dalam jumlah yang sangat besar melalui kotoran (feses) dari lubang kloaka maupun cairan dari oropharing.
Virus flu burung dalam tubuh itik selama dalam masa infeksi dapat dikeluarkan dari dalam tubuh dalam jumlah besar melalui kotoran selama 7 hari, bahkan mungkin sampai 21 hari. Itik air sangat peka dan mudah terinfeksi oleh virus flu burung melalui perantara makanan dan air yang terbiasa mereka konsumsi dan yang terkontaminasi virus flu burung. Habitat atau tempat tinggal dan kebiasaan hidup itik yang dekat dengan lingkungan air sangat memungkinkan untuk penularan virus flu burung dari itik ke lingkungan sekitar melalui media air. Air adlah suatu media yang sangat cocok untuk penyebaran virus AI tidak ganas (nonvirulent) dan sebagian virus AI yang sangat ganas (virulent) diantara spesies unggas yang lain yang berkumpul dalam suatu lahan yang basah  (unggas air, burung laut dan burung pantai). Di dalam air yang tergenang, virus ini masih dapat bersifat infektif sealam 4 hari pada suhu 22°C dan lebih dari 30 hari pada suhu 0°C. Di samping itu, virus ini juga dapat bertahan dalam masa yang lebih lama lagi jika berada dalam derah atau lahan dingin. Data survei di Indonesia juga menyebutkan bahwa letupan-letupan kasus flu burung biasanya akan meningkat pada saat musim hujan dimana kita ketahui kelembaban tinggi pada musim hujan menjadi factor pendukung terhadap perkembang biakan dan penyebaran virus AI di lingkungan. Salah satu hasil penelitian yang dilakukan Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor juga memperlihatkan bahwa sirkulasi virus AI subtipe H5 pada unggas termasuk unggas air di Jawa Barat, banten Jawa Timur sepanjang tahun 2008 sampai 2009 lebih meningkat pada musim hujan dari pada musim kemarau. Suhu yang tinggi pada musim kemarau kemungkinan menyebabkan virus flu burung atau AI yang ada dilingkungan menjadi inaktif. Virus AI dapat diinaktifasi pada suhu 56°C selama 3 jam atau suhu 60°C selama 30 menit, dengan pH <5 atau="atau" ph="ph">8. Gambar di bawah ini menunjukkan kebiasaan unggas air yang sering berhubungan dengan lingkungan air menjadi penyebab meningkatnya faktor resiko terhadap penularan AI ke lingkungan sekitar.
Semoga informasi mengenai Penyebaran Virus Flu Burung atau Virus AI ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita tentang penyakit yang di tularkan oleh hewan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar