Rabu, 02 Januari 2013

PETANI HARUS SIASATI KERUGIAN



Ktna Jombang - Mewujudkan kesejahteraan petani tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Seringkali petani menghasilkan produksi yang tinggi, namun mereka ternyata tidak bisa menikmatinya dengan memperoleh pendapatan yang cukup. Tiga bulan lebih merawat tanamannya, ketika hasil sudah  ada didepan mata justru para tengkulaklah yan menikmati keuntungan dari hasil panen yang melimpah. Ini karena petani lebih suka menebaskan panenannya ke tengkulak, tengkulaklah yang kemudian ngerit, mrontok dan mengangkut padi dari lahan para petani yang sudah dibelinya dari sawah. Memang petani tidak perlu repot-repot mengurus hasil panennya, akan tetapi nilai yang diterima pasti lebih kecil bila dibandingkan bila petani mau meluangkan waktu dan tenaga untuk memanennya sendiri, pasri akan menikmati pendapatan yang lebih baik.

Sebagaimana diakui Mulyono, ketua Gapoktan Turipinggir pada saat temu wicara dengan Kabulog di Balai Desa Megaluh “Saat ini kita panen melimpah tetapi yang menikmati malah para bakul, padi kita boto 100 ditebas bakul Cuma Rp. 3000,00/kg, padahal boto 100 bisa panen sampai 1,5 ton” terang Mulyono. Hal serupa juga dialami oleh salah seorang petani Dusun Proko, Desa brangkal Kecamatan Bandar Kedungmulyo, padinya seluas boto 150 ditawar pedagang seharga Rp. 4.000.000,00, meras tidak cocok dengan harga tebasan, akhirnya dipanen sendiri dan menhasilkan 1,671 Kg. setelah dipanen akhirnya laku Rp. 5.013.000,00 dengan harga jual Rp. 3000,00/kg kering sawah. Sementara dia hanya mengeluarkan Rp. 300.000,00 untuk biaya panen. Seandainya petani tersebut tetap menebaskan hasil panennya, maka dia akan kehilangan pendapatan ± Rp. 600.000,00.
Kebiasaan petani tidak mau repot juga dibenarkan oleh Sukriadi, tokoh petani asal Bareng yang juga Ketua Bidang Koperasi dan Permodalan KTNA kabupaten Jombang, menurutnya petani seharusnya bisa sedikit bersabar agar bias menikmati pendapatan yang lebih baik, “Saya kira umumnya petani memang tidak mau repot dan tidak cermat menghitung antara biaya dan hasil yang diperoleh, Padahal untuk boto 100 umumnya hanya butuh biaya panen sekitar Rp. 250.000,00. Seandainya boto 100 dijual tebasan Rp. 3.000.000, 00, kalau mau memanen sendiri harusnya boto 100 petani tersebut bisa mendapatkan hasil Rp. 4.500.000,00” terang Sukriadi.
Sementara itu Ismail Fahmi Bendahara Umum KTNA Kabupaten Jombang yang juga tokoh petani asal Bareng berharap, kegiatan penyuluhan yang diberikan ke petani bukan hanya tentang aspek budidaya saja, “Pasca panen dan bagaimana menghitung usaha taninya harus menjadi materi penyuluhan untuk para petani” katanya usai mengikuti Panen Raya bersama Kabulog Di Megaluh baru – baru ini. Terkait penyuluhan tentang pasca panen, Sugito salah seorang petugas lapangan Kecamatan Megaluh yang dihubungi HUMUS mengaku sebenarnya petani sudah tahu hasilnya akan jatuh kalau ditebaskan di sawah, tapi karena terbentur berbagai persoalan akhirnya mau bagaimana lagi, “Saya sudah sering sampaikan ke petani di berbagai pertemuan, agar mereka bersabar untuk memanen sendiri” tutur Gito.
Sugito menambahkan, permasalahan utama yang dihadapi petani saat panen raya adalah petani tidak memiliki lantai jemur, kesulitan tenaga kerja saat puncak panen dan desakan kebutuhan. “Seandaianya bisa diusahakan di setiap kelompok ada lantai jemur yang memadai pasti akan sangat membantu” pungkas Sugito. Akhirnya, meningkatkan kesejahteraan petani akan sulit terwujud hanya dengan pendekatan melalui satu aspek saja, perbaikan sisi hulu (budidaya) harus diikuti dengan penataan sistim hilir (pasar). Faktor penunjang dalam bentuk peningkatan akses modal dan kelembagaan petani juga harus diperkuat. Selanjutnya para petugas penyuluh memiliki tugas besar untuk melakukan pencerahan kepada para petani dan keluarganya bersama-sama mewujudkan kehidupan yang lebih baik.      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar