Ktna Jombang - Mewujudkan
kesejahteraan petani tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Seringkali
petani menghasilkan produksi yang tinggi, namun mereka ternyata tidak bisa menikmatinya
dengan memperoleh pendapatan yang cukup. Tiga bulan lebih merawat tanamannya,
ketika hasil sudah ada didepan mata
justru para tengkulaklah yan menikmati keuntungan dari hasil panen yang
melimpah. Ini karena petani lebih suka menebaskan panenannya ke tengkulak,
tengkulaklah yang kemudian ngerit, mrontok dan mengangkut padi dari lahan para
petani yang sudah dibelinya dari sawah. Memang petani tidak perlu repot-repot
mengurus hasil panennya, akan tetapi nilai yang diterima pasti lebih kecil bila
dibandingkan bila petani mau meluangkan waktu dan tenaga untuk memanennya
sendiri, pasri akan menikmati pendapatan yang lebih baik.
Sebagaimana
diakui Mulyono, ketua Gapoktan Turipinggir pada saat temu wicara dengan Kabulog
di Balai Desa Megaluh “Saat ini kita panen melimpah tetapi yang menikmati malah
para bakul, padi kita boto 100 ditebas bakul Cuma Rp. 3000,00/kg, padahal boto
100 bisa panen sampai 1,5 ton” terang Mulyono. Hal serupa juga dialami oleh
salah seorang petani Dusun Proko, Desa brangkal Kecamatan Bandar Kedungmulyo,
padinya seluas boto 150 ditawar pedagang seharga Rp. 4.000.000,00, meras tidak
cocok dengan harga tebasan, akhirnya dipanen sendiri dan menhasilkan 1,671 Kg.
setelah dipanen akhirnya laku Rp. 5.013.000,00 dengan harga jual Rp. 3000,00/kg
kering sawah. Sementara dia hanya mengeluarkan Rp. 300.000,00 untuk biaya
panen. Seandainya petani tersebut tetap menebaskan hasil panennya, maka dia
akan kehilangan pendapatan ± Rp. 600.000,00.
Kebiasaan
petani tidak mau repot juga dibenarkan oleh Sukriadi, tokoh petani asal Bareng
yang juga Ketua Bidang Koperasi dan Permodalan KTNA kabupaten Jombang,
menurutnya petani seharusnya bisa sedikit bersabar agar bias menikmati
pendapatan yang lebih baik, “Saya kira umumnya petani memang tidak mau repot
dan tidak cermat menghitung antara biaya dan hasil yang diperoleh, Padahal
untuk boto 100 umumnya hanya butuh biaya panen sekitar Rp. 250.000,00. Seandainya
boto 100 dijual tebasan Rp. 3.000.000, 00, kalau mau memanen sendiri harusnya
boto 100 petani tersebut bisa mendapatkan hasil Rp. 4.500.000,00” terang
Sukriadi.
Sementara
itu Ismail Fahmi Bendahara Umum KTNA Kabupaten Jombang yang juga tokoh petani asal Bareng berharap,
kegiatan penyuluhan yang diberikan ke petani bukan hanya tentang aspek budidaya
saja, “Pasca panen dan bagaimana menghitung usaha taninya harus menjadi materi penyuluhan
untuk para petani” katanya usai mengikuti Panen Raya bersama Kabulog Di Megaluh
baru – baru ini. Terkait penyuluhan tentang pasca panen, Sugito salah seorang
petugas lapangan Kecamatan Megaluh yang dihubungi HUMUS mengaku sebenarnya
petani sudah tahu hasilnya akan jatuh kalau ditebaskan di sawah, tapi karena
terbentur berbagai persoalan akhirnya mau bagaimana lagi, “Saya sudah sering
sampaikan ke petani di berbagai pertemuan, agar mereka bersabar untuk memanen
sendiri” tutur Gito.
Sugito
menambahkan, permasalahan utama yang dihadapi petani saat panen raya adalah
petani tidak memiliki lantai jemur, kesulitan tenaga kerja saat puncak panen
dan desakan kebutuhan. “Seandaianya bisa diusahakan di setiap kelompok ada
lantai jemur yang memadai pasti akan sangat membantu” pungkas Sugito. Akhirnya,
meningkatkan kesejahteraan petani akan sulit terwujud hanya dengan pendekatan
melalui satu aspek saja, perbaikan sisi hulu (budidaya) harus diikuti dengan
penataan sistim hilir (pasar). Faktor penunjang dalam bentuk peningkatan akses
modal dan kelembagaan petani juga harus diperkuat. Selanjutnya para petugas
penyuluh memiliki tugas besar untuk melakukan pencerahan kepada para petani dan keluarganya bersama-sama
mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar