Rabu, 02 Januari 2013

GENERASI PETANI



ktna Jombang - Indonesia dikenal sebagai Negara agraris, dimana agrikultur merupakan 45% dari mata pencaharian warganya, namun masa depan pertanian bangsa ini sedang menghadapi persoalan cukup serius pada keberlanjutan dan regenerasinya. Alih fungsi lahan sepertinya tidak bisa dibendung, setiap tahun tidak kurang dari 100 ribu hektar lahan pertanian berubah fungsi menjadi kegiatan luar pertanian, dan sampai saat ini belum ada mekanisme yang mampu menghambatnya.

Daya tarik sektor ini juga semakin sepi peminat, Fakultas pertanian sepi peminat, SMK pertanian sepertinya “terpaksa” harus dibuka sebagai ganti sekolah SPMA yang sudah tidak tersisa, Murid-murid TK pun bila ditanya. “kalau besar mau jadi apa….? ” Jawabnya : Jadi guru, jadi insinyur, jadi dokter, jadi tentara, jadi polisi dan lain sebagainya, kok gak ada yang menjawab ingin jadi petani….?, bisa jadi ini karena kabulnya harapan orang tua mereka, yang mungkin berdo’a “ Gustiallah….mudah-mudahan anak-anakku tidak sengsara seperti aku “ kata Bapaknya, si petani yang sawahnya tidak lebih dari 0.3 hektar.
Pertemuan para petani biasanya didominasi oleh wajah-wajah tua, bahkan dalm kegiatan yang berlabel pemuda tanipun bapak-bapak yang renta itu kembali terlihat. Ya para pemuda lebih tertarik pergi ke kota bekerja di pabrik-pabrik yang setiap bulanya pasti bayaran dan beruntung kalau pas banyak lemburan.
Sementara tuntutan akan ketersediaan pangan terus meningkat, bahkan konon tingkat konsumsi beras kita termasuk yang tertinggi di dunia (140/kapita/tahun), dan ternyata belum ada jurus yang benar-benar ampuh untuk bias menguranginya. “ yaa….kita dihadapkan pada persoalan kebutuhan pangan yang terus meningkat, sedangkan lahan untuk memproduksi pangan semakin tergerus . Generasi yang akan melanjutkan kegiatan pertanian juga harus berlomba dengan trend industrialisasi.
Apa yang dilakukan sekolah Taman Kanak-kanak/TK IV/49 Jombang dalam foto diatas mungkin bisa menjadi inspirasi menghadapi kegalauan masa depan pertanian. Mencoba mengenalkan kepada mereka, bagaimana setiap hari bisa tersedia makanan/nasi di meja makan, semula mereka ragu harus berkubang dengan lumpur yang kotor, tapi naluri anak-anak lebih kuat, jadilah mereka menikmatinya sambil bermain dengan lumpur. Mulai dikenalkan dan tahu bagaimana padi ditanam kemudian menjadi beras sampai jadi nasi seperti yang mereka makan, menurut penuturan Anasrul Hakim PPL yang menjadi pendamping TK IV/49 Jombang, para guru berencana akan mengadakan pengenalan pertanian kepada anak didiknya secara regular.
Semoga dengan pengenalan akan dunia pertanian kepada anak-anak sejak dini akan memunculkan minat bagi mereka untuk menjadi generasi petani yang tangguh, sehingga kekhawatiran akan masa depan dunia pertanian bangsa ini sedikit mendapatkan jawaban.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar