Kamis, 03 Januari 2013

SELAMATKAN KRETEK INDONESIA



Ktna Jombang - Sepenting apakah “KRETEK”, hingga bila ia hancur maka Indonesia akan terbunuh? Tulisan ini sekaligus melengkapi dan menegaskan apa yang ditulis Wanda Hamilton dalam tulisannya “NICOTIN WAR”. Wanda mengurai bagaimana konspirasi industry farmasi global dalam upaya menghilangkan kretek. Sementara tulisan ini coba mengurai bagaimana sejarah kretek dlam kaitannya dengan konspirasi ekonomi politik tembakau yang berhubungan dengan regulasi anti tembakau di Indonesia.
Dalam peta rempah, nusantara memang salah satu penghasil tembakau dan cengkeh terbesar di dunia. Diuraikan dalam tulisan ini bagaimana sejarah tembakau yang bukan tanaman asli Indonesia namun ketika ditanam dinegeri tropis yang kondisi alamnya berbeda-beda kamudian menghasilkan varian tembakau yang aneka ragam dan khas. Juga tentang bagaimana cengkeh sebagai tanaman unggulan yang diburu Eropa kemudian bertemu dalam racikan kretek.
Kretek berbeda dengan racikan rokok lain. Kretek diramu dari belasan jenis tembakau yang dicampur dengan rajangan bunga cengkeh dan ditambah saos dari bahan-bahanherbal. Ini yang menjadikan kretek memiliki aroma dan cita rasa khas Indonesia, berbeda dengan rokok putih yang hanya maksimal 3 tembakau (dikenal dengan American Blended) dan tanpa cengkeh.
Dengan rinci diuraikan dalam tulisan ini bagaimana kretek pernah dianggap sebagai penanda identitas, symbol pergerakan nasional bagi mahasiswa-mahasiswa Indonesia menimba ilmu di Belanda. Kretek juga menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia sejak jaman kerajaan. Bahkan kretek menjadi saksi system tanam kerja paksa.
Industri kretek berkembang dari usaha rumahan ke industri besar. Sumbangan kretek terhadap ekonomi Negara sangat signifikan. Bahkan industri kretek terbukti paling tahan banting dalam masa ekonomi sulit seperti Perang Dunia dan krisis moneter, karena seluruh mata rantai industrinya dikerjakan dalam negeri. Kretek merajai pasar rokok dunia. Rokok putih (rokok dengan tembakau Amerika) tak mampu menandingi.
Namun kini, kretek mengalami ancaman akan terbunuh perlahan sebagaimana kopra, garam, jamu dan gula yang tersingkir di negeri sendiri. Modusnya mirip : selalu terselip motif “mulia”, ada kepentingan bisnis Negara maju, ada dukungan lembaga-lembaga internasional dan ada keterlibatan pemerintah dalam negeri.
Untuk membunuh industri minyak kelapa, dilancarkanlah perang anti kelapa. Amerika serikat memimpin. Negara penghasil minyak kedelai terbesar di dunia itu melempar isu bahwa minyak kelapa berbahaya bagi kesehatan. Minyak kelapa mengandung kolestrol tinggi, minyak yang aman adalah  minyak kedelai dan sawit.
Penelitian dibuat, dana kampanye digelontorkan, dan percayalah masyarakat di seluruh dunia bahwa minyak kelapa berbahaya. Bahkan penduduk negeri tropis yang sudah mengkonsumsi minyak kelapa selama berabad-abadpun ikut percaya. Pemerintah Soeharto (1970) mengeluarkan regulasi larangan ekspor kopra. Harga kopra lalu anjlok ketitik terendah, produksipun menurun drastis, petanipun bangkrut total.
Isu kesehatan juga dipakai untuk menghantam industri jamu. Meski di negeri tumbuh ribuan tanaman obat, dan lebih dari separuh penduduk melakukan pengobatan sendiri tanpa bantuan medis, jamu tetap belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Padahal industri jamu berkembang pesat, menyerap jutaan tenaga kerja, dan dengan bahan baku dari dalam negeri.
Namun kebijakan pemerintah masih menomor duakan jamu disbanding obat farmasi modern. System pendidikan kedokteranpun masih berkiblat ke barat. Para dokter banyak yang memilih jadi agen obat farmasi dan ragu merekomendasikan jamu. Dukungan pemerintah terhadap penelitian dan pendidikan saintifikasi jamu juga setengah hati. Kita berada dalam ancaman pembajakan kekayaan hayati.
Industri garam mengalami nasib serupa. Sebagai Negara maritim dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia pernah menjadi pengekspor garam terbesar. Namun sejak Akzo Nobel, sebuah perusahaan garam yodium skala multinasional mengkampanyekan pentingnya garam yodium bagi kesehatan, industri garam Indonesia pun kolaps.
Dengan menggandeng UNICEF melakukan pentingnya yodium untuk tumbuh kembang anak. Regulasi yang mengatur standar kualitas garam rakyat dikeluarkan Menteri perindustrian (1994). Kompetisi menjadi tidak sehat, sekarang 70% kebutuhan garam di Indonesia dipenuhi oleh pasokan garam impor, petani garampun sekarat.
Sementara itu, penandatanganan dokumen kesepakatan tata niaga pertanian, termasuk gula, oleh pemerintah Indonesia dengan International Monetery Fund (IMF) pada tahun 1998 menjadikan ekspor gula menggila. Bea masuk gula import dihapuskan, petani beralih ke usaha lain, pabrik gula satu persatu tumbang.
Ketika setahun kemudian petani tebu berhasil menekan pemerintah dengan demonstrasi dan menaikan bea masuk impor gula menjadi 20-25%, industri gula dalam negeri masih belum tertolong. Bahkan saat regulasi tata niaga import gula diperbaiki (2002) dengan pembatasan jumlah importer dan kewajiban menyangga harga gula petani, kebutuhan gula dalam negeri masih belum mampu dipenuhi sendiri. Ironisnya, pemain import gula adalah perusahaan-perusahaan asing.
Sedangkan proses pembunuhan industri kretek diawali dengan menculnya regulasi control tembakau. Dollar digelontorkan oleh Bloomberg initiative, institusi milik seorang milyader Amerika yang juga seorang komisaris perusahaan farmasi. Riset bahaya tembakau dilakukan, dana untuk program hibah anti tembakau diberikan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan, intitusi pendidikan dan komunitas, konferensi anti tembakau digelar, larangan merokok diberlakukan ditempat-tempat tertentu.
Kadar kandungan nikotin dan tar dibatasi, ini tak mungkin dipenuhi oleh kretek karena kadar nikotin dalam kretek sangat tinggi. Akibatnya mau tidak mau tembakau untuk kretek harus diganti tembakau Virginia, bahan baku rokok putih. Ini mengancam perubahan cita rasa khas kretek dan punahnya tanaman tembakau khas Indonesia.
Perda anti tembakau bermunculan, cukai rokok naik. Lembaga Kesehatan Dunia (WHO) pasang badan, perusahaan farmasi bersembunyi dibelakang kepentingannya. Faktanya kemudian, ternyata perusahaan kretek mulai diakuisi oleh asing. Bentoel oleh British American Tobaco, dan Sampoerna oleh Philips Morris. Impor tembakau semakin meningkat, cerutu dan rokok import juga meningkat, ratusan perusahaan rokok kretek kecil gulung tikar akibat kenaikan cukai dan perusahaan farmasi penghasil obat penyembuh kebiasaan merokok terus meraup untung.
Dengan pemaparan yang gambling, bahasa yang mengalir dan data yang akurat, tulisan ini (mengutip pendapat butet kertaradjasa) membekali wawasan dan pengetahuan kita untuk terus melawan setiap upaya penghancuran budaya lokal, ketiadaan indeks dalam tulisan ini sedikit mengurangi kesempurnaannya. Namun kehadiran tulisan semacam ini sungguh dibutuhkan masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan akan potensi penjajahan model baru yang tanpa sadar sedang menggerogoti negeri ini. Maka upaya penulisan ini adalah sebuah ikhtiar penyebaran informasi, mengamini nubuat guru sukarela Sekolah rakyat di pedalaman Papua, Roem Topatimasang : Jika sejarah ketidakadilan dan keserakahan ini terus berlanjut, maka perjuangan untuk menentanganya juga tak boleh berhenti.


Sumber Buku : Membunuh Indonesia, Konspirasi Global Penghancuran Kretek
Penyusun       : Abhisan DM, Hasiadi Ary, Miranda Harlan.
Penerbit          : Kataka, Desember 2011      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar