Ktna Jombang - Sepenting
apakah “KRETEK”, hingga bila ia hancur maka Indonesia akan terbunuh? Tulisan
ini sekaligus melengkapi dan menegaskan apa yang ditulis Wanda Hamilton dalam
tulisannya “NICOTIN WAR”. Wanda mengurai bagaimana konspirasi industry farmasi
global dalam upaya menghilangkan kretek. Sementara tulisan ini coba mengurai
bagaimana sejarah kretek dlam kaitannya dengan konspirasi ekonomi politik
tembakau yang berhubungan dengan regulasi anti tembakau di Indonesia.
Dalam
peta rempah, nusantara memang salah satu penghasil tembakau dan cengkeh
terbesar di dunia. Diuraikan dalam tulisan ini bagaimana sejarah tembakau yang
bukan tanaman asli Indonesia namun ketika ditanam dinegeri tropis yang kondisi
alamnya berbeda-beda kamudian menghasilkan varian tembakau yang aneka ragam dan
khas. Juga tentang bagaimana cengkeh sebagai tanaman unggulan yang diburu Eropa
kemudian bertemu dalam racikan kretek.
Kretek
berbeda dengan racikan rokok lain. Kretek diramu dari belasan jenis tembakau
yang dicampur dengan rajangan bunga cengkeh dan ditambah saos dari
bahan-bahanherbal. Ini yang menjadikan kretek memiliki aroma dan cita rasa khas
Indonesia, berbeda dengan rokok putih yang hanya maksimal 3 tembakau (dikenal
dengan American Blended) dan tanpa cengkeh.
Dengan
rinci diuraikan dalam tulisan ini bagaimana kretek pernah dianggap sebagai
penanda identitas, symbol pergerakan nasional bagi mahasiswa-mahasiswa
Indonesia menimba ilmu di Belanda. Kretek juga menjadi bagian dari kebudayaan
masyarakat Indonesia sejak jaman kerajaan. Bahkan kretek menjadi saksi system tanam
kerja paksa.
Industri
kretek berkembang dari usaha rumahan ke industri besar. Sumbangan kretek
terhadap ekonomi Negara sangat signifikan. Bahkan industri kretek terbukti
paling tahan banting dalam masa ekonomi sulit seperti Perang Dunia dan krisis
moneter, karena seluruh mata rantai industrinya dikerjakan dalam negeri. Kretek
merajai pasar rokok dunia. Rokok putih (rokok dengan tembakau Amerika) tak
mampu menandingi.
Namun
kini, kretek mengalami ancaman akan terbunuh perlahan sebagaimana kopra, garam,
jamu dan gula yang tersingkir di negeri sendiri. Modusnya mirip : selalu
terselip motif “mulia”, ada kepentingan bisnis Negara maju, ada dukungan
lembaga-lembaga internasional dan ada keterlibatan pemerintah dalam negeri.
Untuk
membunuh industri minyak kelapa, dilancarkanlah perang anti kelapa. Amerika serikat
memimpin. Negara penghasil minyak kedelai terbesar di dunia itu melempar isu
bahwa minyak kelapa berbahaya bagi kesehatan. Minyak kelapa mengandung
kolestrol tinggi, minyak yang aman adalah
minyak kedelai dan sawit.
Penelitian
dibuat, dana kampanye digelontorkan, dan percayalah masyarakat di seluruh dunia
bahwa minyak kelapa berbahaya. Bahkan penduduk negeri tropis yang sudah
mengkonsumsi minyak kelapa selama berabad-abadpun ikut percaya. Pemerintah Soeharto
(1970) mengeluarkan regulasi larangan ekspor kopra. Harga kopra lalu anjlok
ketitik terendah, produksipun menurun drastis, petanipun bangkrut total.
Isu
kesehatan juga dipakai untuk menghantam industri jamu. Meski di negeri tumbuh
ribuan tanaman obat, dan lebih dari separuh penduduk melakukan pengobatan
sendiri tanpa bantuan medis, jamu tetap belum menjadi tuan rumah di negeri
sendiri. Padahal industri jamu berkembang pesat, menyerap jutaan tenaga kerja,
dan dengan bahan baku dari dalam negeri.
Namun
kebijakan pemerintah masih menomor duakan jamu disbanding obat farmasi modern. System
pendidikan kedokteranpun masih berkiblat ke barat. Para dokter banyak yang
memilih jadi agen obat farmasi dan ragu merekomendasikan jamu. Dukungan pemerintah
terhadap penelitian dan pendidikan saintifikasi jamu juga setengah hati. Kita berada
dalam ancaman pembajakan kekayaan hayati.
Industri
garam mengalami nasib serupa. Sebagai Negara maritim dengan garis pantai
terpanjang kedua di dunia, Indonesia pernah menjadi pengekspor garam terbesar. Namun
sejak Akzo Nobel, sebuah perusahaan garam yodium skala multinasional
mengkampanyekan pentingnya garam yodium bagi kesehatan, industri garam
Indonesia pun kolaps.
Dengan
menggandeng UNICEF melakukan pentingnya yodium untuk tumbuh kembang anak. Regulasi
yang mengatur standar kualitas garam rakyat dikeluarkan Menteri perindustrian
(1994). Kompetisi menjadi tidak sehat, sekarang 70% kebutuhan garam di
Indonesia dipenuhi oleh pasokan garam impor, petani garampun sekarat.
Sementara
itu, penandatanganan dokumen kesepakatan tata niaga pertanian, termasuk gula,
oleh pemerintah Indonesia dengan International Monetery Fund (IMF) pada tahun
1998 menjadikan ekspor gula menggila. Bea masuk gula import dihapuskan, petani
beralih ke usaha lain, pabrik gula satu persatu tumbang.
Ketika
setahun kemudian petani tebu berhasil menekan pemerintah dengan demonstrasi dan
menaikan bea masuk impor gula menjadi 20-25%, industri gula dalam negeri masih
belum tertolong. Bahkan saat regulasi tata niaga import gula diperbaiki (2002) dengan
pembatasan jumlah importer dan kewajiban menyangga harga gula petani, kebutuhan
gula dalam negeri masih belum mampu dipenuhi sendiri. Ironisnya, pemain import
gula adalah perusahaan-perusahaan asing.
Sedangkan
proses pembunuhan industri kretek diawali dengan menculnya regulasi control tembakau.
Dollar digelontorkan oleh Bloomberg initiative, institusi milik seorang
milyader Amerika yang juga seorang komisaris perusahaan farmasi. Riset bahaya
tembakau dilakukan, dana untuk program hibah anti tembakau diberikan pada
lembaga-lembaga kemasyarakatan, intitusi pendidikan dan komunitas, konferensi
anti tembakau digelar, larangan merokok diberlakukan ditempat-tempat tertentu.
Kadar
kandungan nikotin dan tar dibatasi, ini tak mungkin dipenuhi oleh kretek karena
kadar nikotin dalam kretek sangat tinggi. Akibatnya mau tidak mau tembakau
untuk kretek harus diganti tembakau Virginia, bahan baku rokok putih. Ini mengancam
perubahan cita rasa khas kretek dan punahnya tanaman tembakau khas Indonesia.
Perda
anti tembakau bermunculan, cukai rokok naik. Lembaga Kesehatan Dunia (WHO)
pasang badan, perusahaan farmasi bersembunyi dibelakang kepentingannya. Faktanya
kemudian, ternyata perusahaan kretek mulai diakuisi oleh asing. Bentoel oleh
British American Tobaco, dan Sampoerna oleh Philips Morris. Impor tembakau semakin
meningkat, cerutu dan rokok import juga meningkat, ratusan perusahaan rokok kretek
kecil gulung tikar akibat kenaikan cukai dan perusahaan farmasi penghasil obat
penyembuh kebiasaan merokok terus meraup untung.
Dengan
pemaparan yang gambling, bahasa yang mengalir dan data yang akurat, tulisan ini
(mengutip pendapat butet kertaradjasa) membekali wawasan dan pengetahuan kita
untuk terus melawan setiap upaya penghancuran budaya lokal, ketiadaan indeks
dalam tulisan ini sedikit mengurangi kesempurnaannya. Namun kehadiran tulisan
semacam ini sungguh dibutuhkan masyarakat Indonesia untuk meningkatkan
kewaspadaan akan potensi penjajahan model baru yang tanpa sadar sedang
menggerogoti negeri ini. Maka upaya penulisan ini adalah sebuah ikhtiar
penyebaran informasi, mengamini nubuat guru sukarela Sekolah rakyat di
pedalaman Papua, Roem Topatimasang : Jika sejarah ketidakadilan dan keserakahan
ini terus berlanjut, maka perjuangan untuk menentanganya juga tak boleh
berhenti.
Sumber
Buku : Membunuh Indonesia, Konspirasi
Global Penghancuran Kretek
Penyusun : Abhisan DM, Hasiadi Ary, Miranda
Harlan.
Penerbit : Kataka, Desember 2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar